Tanjungpinang – Lupakan semua keluh dan sambat saya soal kerja-kerja kebudayaan di Kepulauan Riau, tepatnya di Tanjungpinang. Lupakan juga tuntutan saya untuk membangun taman budaya dan gedung kesenian yang memadai. Abaikan saja semuanya. Sungguh, saya akan tetap baik-baik saja.
Tapi untuk hal ini, tolong luangkan waktu untuk mendengar. Ambil sesaat untuk mencerna. Saya akan sangat berterima kasih jika pada akhirnya Bapak bisa melakukan sesuatu.
Baca Juga : Donor Darah dan Cek Kesehatan Bareng Kwarcab Tanjungpinang
Saya ingin membicarakan kesehatan mental, Pak Gub. Sya cemas, kawan-kawan saya cemas, dan saya harap Bapak juga mulai merasakan kecemasan yang sama.
Pada Kamis, 31 Juli lalu di Tanjungpinang, seorang siswi berusia 16 tahun memutuskan mengakhiri hidupnya secara tiba-tiba dan tanpa tanda-tanda sebelumnya. Guru dan teman-teman sekolah menggambarkan siswi itu sebagai pribadi yang baik dan tekun. Ia hampir menuntaskan hafalan 30 juz Alquran. Ia calon hafizah, Pak Gub!
Bapak sudah membaca berita itu, bukan?
Seminggu kemudian, 7 Agustus 2025, masih di Tanjungpinang, seorang mahasiswa berusia 26 tahun mengambil langkah yang sama. Sebulan sebelumnya, pada 2 Juli 2025, seorang lansia berusia 67 tahun juga memilih jalan itu. Mundur lagi ke 24 Februari 2025, seorang anggota Damkar berusia 27 tahun menghembuskan napas terakhir dengan cara serupa.
Itu baru daftar kasus sepanjang 2025 di Tanjungpinang, kota tempat rumah Bapak berdiri—tetangga dekat, hanya sejarak injakan sedikit gas dari Batu Tujuh.
Kalau Bapak mau, saya bisa menyusun daftar yang lebih panjang dengan kasus serupa di Batam, Karimun, dan Bintan. Tapi saya khawatir waktu kita akan habis, sementara kegentingan bercampur kengerian sudah menjalar sampai ke ujung siku.
Pak Gub yang baik,
Sampai saya mengetik surat ini, saya belum mendengar satu pun pernyataan Bapak soal fenomena ini. Menurut saya, sebagai orang nomor satu di provinsi, Bapak tidak perlu menunggu wartawan menyodorkan mikrofon untuk memberi respons, menentukan sikap, membuat strategi, dan menekan agar tragedi seperti ini tidak terulang.
Minimal, bersuaralah, Pak Gub. Katakan sesuatu—apa saja—yang bisa menenangkan mereka. Yakinkan mereka bahwa esok hari masih membawa harapan. Pastikan mereka tahu Bapak sedang berupaya menjadikan Kepri rumah yang ramah untuk tumbuh. Perkuat mereka dengan program penyuluhan dan layanan pendampingan tanpa penghakiman. Tunjukkan bahwa setiap hidup berharga dan bermakna. Lakukan semua itu sebelum sinar harapan benar-benar mengabur dan gelap menelan segalanya.
Pak Gubernur yang hebat,
Baca Juga : Keuntungan CIMB Niaga Tembus Rp4,4 Triliun di Semester I 2025
Konon tugas terberat seorang pemimpin bukan hanya menambah pendapatan daerah, membangun jembatan layang, atau menarik wisatawan. Tugas terberat justru menginspirasi, menyalakan api optimisme bahwa setiap orang berhak meraih cita-cita, dan memastikan nyala harapan itu merata di mana-mana.
Dalam situasi genting ini, saya, teman-teman, dan masyarakat Kepri sangat mendambakan kemampuan itu dari Bapak. Kami tidak berlebihan jika menuntutnya, bukan?
Sekali lagi, Pak Gub, mumpung waktu masih ada. Jangan sampai Bapak menanggung penyesalan karena melewatkan kesempatan atau menyepelekan waktu.
Lekaslah bergerak. Kami, sebagai warga biasa, melakukan apa yang kami bisa. Bapak, sebagai pemimpin tertinggi di provinsi, tolong rumuskan langkah yang benar-benar jitu.
Semoga Bapak sehat selalu.






