Tanjungpinang Hidupkan Sejarah Lewat Pameran Budaya
TANJUNGPINANG – Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) kembali menarik perhatian publik melalui pameran temporer bertajuk “Potret Tanjungpinang dari Masa ke Masa dan Jejak Budaya dari Dasar Laut”, Selasa (14/10/2025).
Pameran ini tidak hanya menampilkan benda kuno, tetapi juga membawa pengunjung menelusuri perjalanan sejarah, perdagangan, dan kebudayaan Tanjungpinang. Setiap artefak menceritakan kisah bagaimana kota ini berkembang sebagai simpul peradaban maritim Melayu yang berhubungan dengan dunia internasional.
Ratusan Artefak dari Dasar Laut Jadi Saksi Sejarah
Lebih dari 200 artefak hasil pengangkatan dari dasar laut dipamerkan, termasuk temuan berharga dari Dinasti Qing, Ming, dan Song yang berasal dari abad ke-17 hingga ke-20. Koleksi tersebut meliputi keramik, koin, guci, teko, dan berbagai peralatan makan yang dulunya menjadi barang dagang penting di jalur maritim Nusantara.
Asisten Pemerintahan dan Kesra Pemko Tanjungpinang, Tamrin Dahlan, yang membuka pameran mewakili Wali Kota Lis Darmansyah, mengatakan artefak ini membuktikan bahwa Tanjungpinang memiliki peran besar sebagai pelabuhan transit dan pusat perdagangan internasional.
“Melihat artefak ini seperti membuka kembali lembaran sejarah panjang Tanjungpinang sebagai kota pelabuhan yang disinggahi berbagai bangsa,” ujarnya.
Menelusuri Jejak Peradaban Tanjungpinang
Pameran terbagi menjadi beberapa zona tematik. Zona pertama menampilkan artefak laut seperti keramik dan tembikar dari kapal dagang yang karam di perairan Riau-Lingga. Zona kedua memperlihatkan koleksi foto dan peta tua yang menggambarkan perkembangan tata kota sejak masa kolonial hingga pasca kemerdekaan.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, Muhammad Nazri, menjelaskan bahwa pameran ini menghidupkan kembali cerita manusia di balik setiap benda sejarah. “Kami ingin masyarakat melihat sejarah bukan sekadar tulisan, tetapi bagian dari kehidupan,” katanya.
Kolaborasi Lintas Lembaga Hidupkan Sejarah
Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Museum SSBA, BPK Wilayah IV Riau–Kepri, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kepri, serta museum daerah di Lingga dan Bintan. Sinergi ini memperkuat jejaring kebudayaan dan mendorong generasi muda lebih mengenal sejarah lokal.
Nazri menambahkan, museum kini bertransformasi menjadi ruang edukatif modern yang interaktif. “Museum tidak lagi hanya tempat menyimpan benda sejarah, tetapi pusat belajar publik yang hidup,” jelasnya.
Daya Tarik Edukasi dan Wisata Sejarah
Pameran ini mendapat respons positif dari kalangan pendidik dan masyarakat. Banyak sekolah mengajak siswa berkunjung untuk belajar sejarah secara langsung.
Ketua TP PKK Tanjungpinang, Yuniarni Pustoko Weni, menilai kegiatan ini memperkuat rasa cinta terhadap budaya lokal. “Anak-anak bisa belajar bahwa Tanjungpinang memiliki sejarah panjang dan peran besar dalam peradaban Nusantara,” katanya.
Dorongan Jadikan Tanjungpinang Kota Budaya
Dalam sambutannya, Wali Kota Lis Darmansyah menyebut pameran ini sejalan dengan visi menjadikan Tanjungpinang sebagai kota budaya dan destinasi wisata sejarah.
“Kita memiliki tanggung jawab menjaga warisan sejarah agar tidak hilang ditelan waktu. Museum adalah penghubung masa lalu, masa kini, dan masa depan,” tulis Lis.
Lis juga mengajak generasi muda untuk aktif mengunjungi museum dan belajar dari sejarah. “Kota besar adalah kota yang menghargai masa lalunya,” tegasnya.
Museum sebagai Gerbang Wisata Budaya dan Ekonomi Kreatif
Selain fungsi edukatif, pameran ini mendorong pariwisata dan ekonomi kreatif. Pemerintah Tanjungpinang berencana mengembangkan konsep Museum Hidup dengan menggabungkan pameran tematik, pertunjukan seni, dan lokakarya kreatif.
“Kami ingin museum menjadi tempat yang inspiratif dan menyenangkan,” ujar Nazri.
Menghidupkan Nilai Warisan Leluhur
Pameran “Potret Tanjungpinang dari Masa ke Masa” tidak sekadar menampilkan benda bersejarah, tetapi juga menggambarkan nilai-nilai luhur masyarakat Melayu seperti semangat dagang, keterbukaan, dan gotong royong.
Dengan pameran ini, Tanjungpinang menegaskan dirinya bukan hanya kota sejarah, tetapi kota yang terus berkembang dengan menghormati akar budayanya.
“Sejarah bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi cermin untuk menatap masa depan,” tutup Weni.
Info Kunjungan Museum SSBA
Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah berlokasi di Jalan Ketapang, Tanjungpinang, dan buka setiap Selasa–Minggu pukul 09.00–16.00 WIB.
Selain pameran tetap, museum juga memiliki ruang audiovisual, koleksi arkeologi, serta perpustakaan mini yang terbuka untuk umum.
Pameran ini berlangsung hingga 18 Oktober 2025 dan terbuka tanpa biaya masuk.






